Kamis, 19 Juli 2012

Terima Kasih Pak Tani...


Oleh: Kang ‘Dzanur’ Yadie
Nikmatnya bekerja itu tidak hanya dilihat atau dirasakan dari seberapa gaji atau penghasilan yang kita dapat, tapi bagaimana kita berusaha mencintai, sungguh-sungguh dan ikhlas menjalani pekerjaan itu. Apalah arti uang atau gaji besar, tapi kita bekerja merasa terpaksa, tidak ikhlas, tidak sungguh-sungguh. Sebaliknya, walaupun penghasilan pas-pasan dan hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari, tapi hati tenang, ikhlas, dan sungguh-sungguh menjalaninya.
Begitulah kira-kira yang tergambar dari wajah pak Tani yang usianya sudah tidak muda lagi, 70 tahun, kira-kira. Sudah puluhan tahun ia mengabdikan dan bekerja sebagai petani. Tiap hari berjibaku dengan tanah, rumput-rumput liar, bahkan takjarang berpapasan dengan ular berbisa, babi hutan, serangga atau hewan-hewan liar lainnya ketika ia bekerja di kebun. Kalau di sawah dia sudah akrab dengan ular sawah, tikus, keong, atau hama wereng lainnya.
Bagi yang tidak biasa atau biasa kerja enak, kerja kantoran, mungkin melihatnya begitu melelahkan, mungkin juga ada yang mencibir sambil berkata, “capek-capek kerja seperti itu?”
Tapi, ya itu tadi. Kerja tidak bisa dipaksakan. Setiap orang punya jatahnya masing-masing. Karena Allah Mahaadil.
Pagi-pagi, setelah adzan subuh, ia sudah perlente, gaya. Pakaian khas ala petani, topi yang sudah dekil, golok sudah siap di pinggang, kantong berbahan karung sudah siap, nasi sudah dibungkus dengan daun pisang plus ikan asin dan sambal goang, sepatu bot sudah menunggu di luar, dan waktunya berangkat.
Takada aral, menyesal ataupun mengeluh. Toh, profesi ini sudah ia lakukan berpuluh-puluh tahun. Sebelum menikah pun ia sudah bertani. Bahkan di tahun pertamanya menikah, sang isteri sudah diajak untuk mangkalan (bermalam) di huma. Begitu juga ketika anak pertama lahir, ia gendong ke huma.
Kini, ketika zaman sudah berubah, era tekonolgi dan informasi yang kian cepat, di usianya yang sudah takmuda lagi, ia tetap menjalankan profesi itu (bertani). Ia sudah menyatu dengan alam. Menyatu dengan hama. Gagal panen sudah biasa. Toh, bumi ini milik Allah. Ia hanya menjalankan titah dan memelihara tanah bumi ini semampunya. Kalaupun dalam bertani ia merugi, itu sudah kehendak yang di Atas, kersaning Gusti.
Kewajiban ia hanya mengurus dan memeliharanya. Menanaminya, memanennya kemudian menanam lagi, memanen lagi, begitu seterusnya. Setiap tahun ia tak pernah berhenti berharap pada Yang Mahakuasa, agar tahun ini panennya subur dan berhasil.
Kadang saya belajar prinsip hidup darinya. Belajar kesabaran, keuletan, kesungguhan, keikhlasan dalam bekerja. Belajar bijaksana menatap hidup. “Jangan ngoyo. Harus tegar hidup itu. Jangan buat masalah dengan orang lain. Jangan sombong. Di atas langit masih ada langit.” Begitu kira-kira pada suatu waktu.
Saya hanya bisa tertunduk, tidak membantah ataupun protes. Menelan setiap perkatannya kemudian merenungkannya. Walau bagaimana pun soal hidup, dialah yang lebih dulu dan berpengalaman. Saya cuma anak kemarin sore. Tahu apa soal hidup.

Tahu apa soal hidup?
Ya, saya tahu apa soal hidup. Oleh karena itu, biar saya tahu, saya harus terus belajar. Belajar mengenali diri, mengenal lingkungan, mengenal alam juga mengenal Tuhan Sang Pencipta.
Terima kasih pak Tani. Terima kasih...karenamulah saya bisa kenyang makan. Karenamulah saya bisa menikmati sayuran segar. Bila tidak ada kau, akan seperti apa tanah negeri ini.
Terima kasih pak Tani...[]



* Pernah dimuat di majalah ISMA edisi 119 tahun XIII 23 Juni - 23 Juli 2012

Rabu, 27 Juni 2012

Dina Amparan Sajadah; Sebuah Pengakuan


Oleh: Kang ‘Dzanur’ Yadie
(Direktur SaungBaca KaYeDe)
                                                                                                                     
Pernahkah Anda mengalami kejadian-kejadian memilukan dalam hidup ini. Musibah beruntun, datang silih berganti, ujian demi ujian seolah tidak pernah memberikan kepada kita untuk menghirup kesegeran kebahagiaan?
Jawabnya, pasti pernah. Walaupun dengan kadar dan tingkat derita yang berbeda, semua makhluk (terutama manusia) di bumi ini tidak akan pernah lepas dari ujian dan cobaan. Bagi manusia beriman, ujian dan cobaan merupakan kosekuensi yang harus diterimanya. Walaupun kadar “menerima” tidaklah mudah untuk diterima sebagaimana layaknya. Kadang, karena keterbatasan manusia dalam memahami realitas dan kejadian-kejadian yang terjadi, seringkali setiap musibah bisa konotasi dan penafsiran yang berbeda-beda.
Bagi si A, ketika mendapatkan musibah, mungkin saja sikap yang timbul adalah marah-marah, atau bahkan menggugat Tuhan sebagai sesuatu yang tidak adil dan tidak sayang kepada dirinya. Bahkan, mempertanyaan sebagai suatu dzat yang tidak becus mengurus ciptaannya sendiri. Sebaliknya, bagi si B ketika mendapatkan musibah, mungkin saja berpandangan dan bersikap, kalau kejadian termasuk musibah yang menimpa dirinya adalah bentuk kasih, sayang dan keadilan Tuhan. Tergantung dari mana kita memandang.
Tapi, bagaimana pun persepsi kita tentang musibah yang terjadi, maka sedikit pun Tuhan tidak pernah bergeming atau gentar terhadap persangkaan hamba-Nya. Toh, Tuhan sendiri bersabda bahwa diri-Nya (Tuhan) bergantung sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Maka, kesimpulannya sangat bergantung, sejauh mana kita mempersepsi musibah dan Tuhan itu sendiri.
Nah, jika ditarik pada konteks nasional, beberapa tahun ini Indonesia seolah tidak pernah surut dari musibah. Berbagai macam bencana terus mengalir datang silih berganti. Mulai dari tsunami, banjir bandang di Jawa Timur, gempa bumi Yogyakarta, gempa laut Pangandaran, lumpur panas Lapindo, dan terakhir banjir yang menyerang beberapa kawasan di Indonesia, seperti Jakarta, Bekasi, Bandung, dan lain-lain.
Belum persoalan lain. Semenjak era reformasi bergulir berbagai peristiwa, mulai dari persoalan domestik keluarga sampai antar bangsa, kekerasan terhadap anak dan perempuan, kemiskininan, pengangguran, pembunuhan, tawuran antar suku, persoalan TKI dan lain-lain, seolah tidak pernah selesai, melekat bak lumut yang sulit untuk dibersihkan.
Nah, dari sini pun semua orang punya persepsi dan sikap yang berbeda. Mulai birokrat, konglomerat, pejabat hingga orang melarat, punya persepsi dan sikap yang berbeda-beda. Ada yang mengeluh dan mengambil tindakan konyol seperti bunuh diri. Ada juga yang bersikap lebih pasrah tanpa harus bertindak apa-apa untuk keluar dari kemelutnya. Ada juga yang saling menyalahkan, si A penyebabnya, si B penyebabnya dan seterusnya. Ada juga juga yang memaki-maki para pejabat, menganggap karena ulah pejabatlah negara ini jadi hancur, seperti korupsi, kolusi dan nepotisme. Karena ulah pejabatlah kemiskinan, pengangguran, kekerasan semakin merajalela.
Ada juga kaum lain yang hanya menyebar brosur, sepanduk, mengadakan pengajian, istighosah, duduk di majelis taklim sambil mencucurkan air mata. Karena kita harus pasrah dan menyerahkan semua persoalan ini kepada sang pencipta, tanpa harus berusaha berbuat, melawan segala bentuk penindasan yang menyebabkan musibah ini terjadi.
Intinya, apapun persepsi, sikap dan cara orang dalam memahami setiap peristiwa dan kejadian yang menimpa memang sah adanya. Bergantung pada seberapa besar tingkat pemahaman, kepekaan seseorang dalam memahami realitas kehidupan ini.

Pengakuan Berarti Kepasrahan
Bagi yang percaya bahwa ada suatu dzat yang lebih Maha sempurna dari yang sempurna, suatu dzat yang kuat dari kekuatan yang ada, dan tidak akan ada sesuatu yang bisa menandingi keberadaan-Nya, tentu segala persoalan akan ia kembalikan kepada sesuatu yang Maha sempurna tersebut.
Artinya, seberapa pun kekuatan manusia untuk menyelesaikan segala persoalan dan musibahnya yang menimpa, maka tidak akan berarti apa-apa, jika suatu Yang Maha Perkasa tidak pernah ikut ambil bagian dalam membantu menyelesaikan persoalannya.
Inilah sebuah pengakuan. Seberapa pun hebatnya manusia, tidak ada yang lebih hebat selain yang mengenggam seluruh alam ini. Dan, seberapa pun sucinya manusia, tetap manusia adalah tempatnya kesalahan dan kekhilafan (kecuali yang dimaksum dan disucikan).
Sebuah lagu sunda, Dina Amparan Sajadah, yang ketika mendengarkannya membuat hati saya tersentuh. Sangat filosofis. Terlepas, dari filosifi awal sang pencipta tagu ini, perkenankan saya untuk menafsirkan sesuai dengan apa yang saya pahami.
Dina amparan sajadah. Abdi sumujud pasrah. Diri nu lamokot ku dosa. Nyanggakeun sadaya-daya
Dina amparan sajadah. Abdi sumujud pasrah. Mundut pangampura gusti. Ya Allah Robbul Izzati.
Jelas, bahwa manusia tidak punya kekuatan secuil pun jika dibandingan dengan Sang Penggenggam alam ini. Teu aya daya sareng upaya, anging Allah Swt. Pasrah di sini berarti mengakui akan kebesaran Allah Swt.
Inilah, sebuah pengakuan hakiki seorang hamba. Ketika dirinya sudah tidak sanggup lagi untuk menyesaikan seluruh persoalan yang terjadi, maka layaknyalah bergantung pada yang menciptakan masalah. Konsekuensi sebagai makhluk beriman.
Artinya, sedikit pun kita tidak punya hak untuk menyalahkan Tuhan. Karena bisa jadi segala musibah yang menimpa kita merupakan perbuatan manusia sendiri. Alhasil, kita harus mampu mengkosongkan ke-“aku’-an kita sebagai makhluk. Ketika, pengosongan itu berhasil kita lakukan, maka semua persoalan, semua permasalahan kita serahkan sepenuhnya kepada sang pencipta. Kewajiban kita adalah berusaha semaksimal mungkin mencegah terjadinya musibah tersebut. Karena bisa jadi, segala derita yang terjadi di bumi disebabkan karena ulah manusia sendiri. ”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karen perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Ruum [30]: 41)
Banjir, karena kita membuang sampah sembarangan. Longsor, karena hutan-hutan kita gunduli. Kemiskinan, karena uangnya dikorupsi. Pengangguran, karena kapitalisme merajalela. Maka, wajar jika berbagai problem di negeri ini begitu sulit ditanggulangi.
Taya deui pang lumpatan. Taya deui pamuntangan. Mung Allah pangeran abdi. Pangeran anu sajati. Wallahu ‘alam!

Renungan Menjelang Ultahku


Duh, tak terasa usiaku sudah mau bertambah lagi, juga mengurangi jatah hidupku di dunia. Tapi rasanya masih jauh dari sempurna. Kalau merujuk pada konsep insan kamil, rasanya aku ini belumlah jadi manusia seutuhnya. Ada banyak kekurangan-kekurangan yang masih melekat dalam diri ini. Kejelekan-kejelekan belum bisa aku enyahkan seratus persen. Terlebih pertanyaanku paling penting adalah, kebaikan apa yang sudah aku perbuat? Sudah berapa banyak amal yang aku tanamkan untuk kehidupan nanti?
Ah, aku tak bisa jawab. Saking tak adanya amal yang bisa aku banggakan. Aku tak bisa berkutik, saking banyaknya kekurangan-kekurangan yang melekat dalam diri.
Ah, aku malu. Aku malu sama diriku sendiri yang sering jujur mengatakan semua kebenaran, tapi aku sering tak menggubrisnya.
Aku malu. Aku malu sama Allah yang telah begitu banyak memberiku kenikmatan. Tapi aku jarang mensyukurinya. Sampai-sampai saking banyaknya nikmat yang Dia berikan, aku tak bisa menghitungnya.
Ah, aku malu. Aku malu sama Allah yang telah begitu banyak memberiku kebahagiaan. Tapi aku jarang berterima kasih pada-Nya. Sampai-sampai saking melimpahnya kebahagiaan yang Allah berikan, aku tak bisa menuliskannya.
Detik ini, dalam catatan ultahku kali ini, izinkan aku untuk mengucap syukur pada-Mu ya Allah. Meskipun aku tahu, ini tidak akan bisa membalas semua kasih sayang-Mu padaku.

Terima kasih ya Allah
Atas nikmat penglihatan yang masih terjaga
Kedipnya mata yang begitu indah
Terima kasih ya Allah
Atas nikmat pendengaran yang masih sempurna
Telinga yang begitu menakjubkan
Rambut yang memesona
Terima kasih ya Allah
Atas berkah nafas yang begitu berharga
Hidung yang begitu memesona
Karenanya aku masih bisa menghirup udara dunia ini
Terima kasih ya Allah
Atas usia yang masih Engkau amanahkan kepadaku
Izinkan aku agar aku bisa memaksimalkannya
Kuatkan aku agar aku bisa mengabdikannya
Kekuatan tangan yang masih perkasa
Mengayun bait demi bait kebaikan
Kekuatan kaki yang masih terjaga
Melangkah derap demi derap pengharapan

Terima kasih ya Allah
Atas semua organ tubuh yang Kau amanahkan kepadaku
Tak terhitung nilainya bagiku
Menemani dalam detik, menit, jam merambatnya usiaku
Sedetik pun aku tak kuasa menahannya

Aku hanya ingin mengucap syukur
Atas beribu-ribu nikmat yang tak bisa aku tuliskan
Nikmat makan, minum, buang air besar
Buang air kecil, berjalan, berkedip, bernafas
Nikmat tidur adalah nikmat yang tak bisa dinilai dan dihitung oleh apapun

Tuhan...
Begitu Agungnya Engkau
Begitu Perkasanya Engkau
Begitu Kuasanya Engkau
Begitu Maha Kasih Sayangnya Engkau
Begitu Tingginya keberadaan-Mu atas makhluk
Atas diriku yang fana ini

Tuhan...
Dalam usiaku ini
Izinkan aku untuk terus merajut kebaikan
Kuatkan aku untuk terus mengenggam, mengimani keberadaan-Mu
Aku rindu pada-Mu
Aku ingin bertemu dan melihat wajah-Mu
Di dunia ini banyak makhluk yang mengagungkan-Mu
Kuatkan lisanku
Kuatkan jasadku
Kuatkan batin dan jiwaku
Untuk bisa terus mengagungkan-Mu
Untuk terus membanggakan nama-Mu
Nama yang tak pernah pamrih
Nama yang tak pernah minta balas budi

Tuhan...
Begitu terbatas lisanku
Begitu terbatas kata-kataku
Begitu terbatas tulisanku
Hingga aku tak bisa menuangkannya
Hanya ini yang bisa aku goreskan
Semoga Kau tak cemburu...
Semoga Kau tak benci...
Pada diriku, hamba yang fana ini
Terima kasih ya Tuhan
Curahan nikmat-Mu begitu berharga


Dirayakan tiap tanggal 23 April
Salam

Kang ‘Dzanur’ Yadie

Jumat, 22 Juni 2012

Hidangan Bubur di Senja Hari


Oleh: Kang ‘Dzanur’ Yadie

“Yadi jadi ketemu?” begitu kira-kira SMS yang masuk ke handphone saya di sore itu. SMS yang tidak sempat saya balas, karena pertama, saya telat buka SMS itu. Kedua, keburu disusul dengan deringan handphone saya, konfirmasi apakah saya jadi mampir ke kantornya atau tidak. Jelas saja saya jadi, karena saat saya menerima telephone, posisi saya sudah di Taman Menteng, udah deket ke kantornya. Walaupun, di Jakarta tahu sendiri, dekat jarak bukan berarti perjalanan bisa secepat kilat.
Dan betul, sejam kemudian saya baru sampai. Langsung saya ke kantornya di lantai 29. Sampai di lobi, saya disambut oleh pak tua yang luar biasa ramahnya.
“Bapak sudah nunggu dari tadi, kirain gak jadi dateng,” kata si pak tua itu. “Sudah dibeliin bubur ayam, tuh.” Sambung si pak tua itu sambil menggandeng tanganku menuju ruangan bapak yang akan saya temui.
Benar saja, begitu saya tiba, di meja bapak itu sudah tersedia satu gelas air putih dan semangkuk bubur ayam (walaupun saat itu diwadahin pakai stereo form). Si bapak pun mempersilahkan saya untuk menyantap bubur itu.
“Lho, kok bapak gak makan?” tanya saya.
“Udah. Nunggu kamu lama, jadi saya makan duluan.”
Ah, saya jadi merasa bersalah karena terlambat. Walaupun keterlambatan saya agak ditoleransi. Karena saya rencana datang itu antara jam 17.00 sampai 19.00, lagian saya selesai acara workshop jam 17.20, belum perjalanan, di Jakarta tahu sendiri, hehe...
Selama saya menyantap bubur ayam itu, pikiran saya kembali ke masa lalu.
Dulu, waktu saya masih kecil, saya tahu bapak ini hanya melalui foto yang dipajang ayah saya di rak piring.;) Walau fotonya sudah agak kusam, kerena sudah terlalu lama, tapi saya masih  bisa melihat dengan jelas wajah di foto itu. Begitu juga dengan pakaian yang digunakan; seragam wisuda.
Baik ayah maupun ibu saya sering cerita tentang bapak ini. Menurut ayah, dia seorang mahasiswa (yang belakangan saya tahu dia lulusan ITB jurusan arsitektur), yang pernah KKN di kampung Bantarcaringin sekitar tahun 70-an (waktu itu saya belum lahir, mungkin masih di lauhul mahfudz;)). Tiap kali bercerita, ayah atau ibu saya kelihatannya terkesan banget dengan orang yang satu ini. Mulai dari cara makannya, apa yang ia lakukan, kebiasaannya, sampai kegiatan-kegiatannya selama ia KKN di kampung Bantarcaringin, selalu ayah ceritakan dengan penuh kekaguman dan kerinduan.
Mungkin, karena waktu itu, di kampung saya, mahasiswa (orang terpelajar) seperti dia, itu masih jarang, sehingga orang-orang desa masih menganggap mereka (mahasiswa) itu istimewa, baik gelar, pengetahuan, juga kemampuannya secara finansial.
Ah, saya jadi makin penasaran dengan orang ini. Seperti apa ya dia?
Namun di tengah-tengah rasa penasaran saya, ayah saya malah kehilangan kontaknya. Foto dia yang dipajang itu hilang, setelah keluarga saya pindah rumah. Begitupun dengan alamat rumah dia, ayah lupa di mana naronya. Jadi, persis keluarga saya kehilangan informasi tentang dia. Padahal, ayah dan ibu merindukannya. Juga saya, ingin sekali melihat, kenal, ngobrol dengannya.
Bertahun-tahun, baik ayah maupun ibu hanya bisa berharap, suatu hari ia datang ke rumah kami. Hanya satu harapan kami, bahwa dia baik-baik saja dan masih sehat wal afiat.

Hari yang Mengejutkan
Suatu hari, tahun 2007, mungkin seminggu setelah lebaran. Waktu itu, saya sedang ada di rumah juga ayah saya. Hanya ibu yang tidak ada. Dia sedang ke kebun. Tiba-tiba kami kedatangan tamu yang tiada lain adalah orang yang selama ini kami rindukan, terutama ayah saya, kelihatannya ayah memang betul-betul rindu.
Waktu itu saya masih belum kenal, cuma karena sering melihat wajahnya di foto, jadi rasanya saya tidak asing lagi dengannya.
Itulah hari yang mengejutkan bagi saya, juga ayah saya. Kerinduan dan rasa penasaran kami terobati sudah. Dan, alhamdulillah dia baik-baik saja.
Sejak saat itu, keluarga kami terutama saya jadi sering komunikasi. Apalagi setelah ada handphone, facebook, atau jejaring sosial lainnya, rasanya kami tak merasa jauh lagi. Kami tak kehilangan kontak lagi. Sesekali saya menyempatkan diri untuk menyapa melalui dinding FB-nya. Bahkan, ketika kemarin 1 hari sebelum lebaran 2010, dia mau berkunjung, kami tidak susah lagi.
Begitupun dengan perjalanan Kamis 7 Oktober 2010 lalu, saya nyaris tidak percaya. Karena, saya sedang berada di kantornya. Ya, walaupun saya agak terlambat datang, karena harus mengikuti kegiatan penutupan workshop “Peningkatan Minat Baca” tapi, hari itu tak mengurangi rasa terkejut dan syukur saya atas moment penting itu, yang dulu sama sekali tidak terbayangkan akan terjadi (apalagi setelah foto dan semua alamat dia hilang).

Buah dari Kebaikan
Setelah saya menyantap bubur yang disuguhkannya, juga setelah ngobrol-ngobrol sebentar, akhirnya kami turun dari kantornya, lantai 29 dengan menggunakan lift. Rencananya, saya akan berpisah di lobi kantor itu. Saya menuju Depok dan dia pulang ke apartemennya. Cuma karena kami satu arah, akhirnya saya pun diantar sampai stasiun Gondangdia.
Dan, selama perjalanan itu, sambil sesekali kami ngobrol, tak henti-hentinya saya mengucap syukur. Walau pertemuan kami sebentar, tapi saya mendapatkan hikmah, inspirasi juga semangat yang luar biasa.
Inilah buah dari kebaikan. Silaturahmi yang terus dieratkan. Walaupun bapak ini sudah sukses, tapi dia tidak pernah lupa terhadap keluarga ayah saya yang tinggal di kampung. Begitupun ayah saya, ia sering sekali cerita soal sosok sarjana yang satu ini. Mungkin, sarjana pertama yang ayah saya temui, tahun 70-an.
Betul kata Rasul bahwa silaturahmi itu akan memanjangkan umur dan melapangkan rezeki. Ini buktinya, meskipun ayah saya sudah tua, tapi efek dan hikmah silaturahmi yang dulu, tahun 70-an itu, ayah saya bangun ternyata bisa dinikmati oleh anak keturunannya, termasuk saya.
Selain itu, bahwa kebaikan itu tidak akan pernah tertukar. Mungkin, jika dulu ayah saya tidak melakukan yang namanya kebaikan, rasanya mustahil buah itu akan dipetiknya dikemudian hari. Jadi, saya menyimpulkan, janganlah takut berbuat terbaik untuk sesama, keluarga ataupun orang lain. Karena imbasnya pasti untuk diri kita. Sekian.[]

* Tulisan ini saya persembahkan untuk Pak Hariadi Saptadji di KADIN Indonesia, sekarang di OSO Grup Indonesia. Terima kasih atas hidangan buburnya. Terima kasih juga, karena bapak tidak melupakan keluarga ayah saya di kampung. Jabat erat selalu.